Sekolah.mu Breaking The Glass Ceiling - Sekolah.mu

Sekolah.mu Breaking The Glass Ceiling

Published
Categorized as News, Pilihan

Hi Muvers!

Tahukah kamu, pada 8 Maret kita memperingati Hari Perempuan Internasional? Tahun ini, tema yang diusung adalah “Gender Equality for Sustainable Tomorrow”, atau kesetaraan gender untuk masa depan yang berkelanjutan.

Peran perempuan dalam masyarakat memang besar: sebagai istri, ibu, dan anak di keluarga; sebagai pekerja; dan sebagai pemimpin. Untuk menjalankan berbagai peran ini, perempuan tentu butuh dukungan dari semua pihak, mulai dari keluarga, pasangan, sampai peran negara dalam memberikan tindakan afirmasi bagi perempuan marjinal.

Bukankah sekarang semua sudah setara? Kenapa masih memperingati Hari Perempuan?

Pertanyaan di atas kerap muncul–mungkin, beberapa yang membaca tulisan ini juga bertanya hal yang sama. Yuk, kita dalami bersama-sama.

Berdasarkan Global Gender Gap Report 2021, Indonesia berada di peringkat 101 dari 156 dalam hal gender gap atau kesenjangan gender. Kesenjangan gender diukur melalui 4 indikator yakni partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, dan pemberdayaan politik.

Artinya, perempuan masih mendapatkan banyak hambatan dan batasan dalam mengakses sumber daya dan menjalankan perannya. Karena itulah kita masih perlu menyuarakan kesetaraan gender untuk membantu perempuan untuk maju.

 

Kenalan dengan glass ceiling

Menurut data BPS 2021, dari total 121,05 juta angkatan kerja, jumlah pekerja formal laki-laki di Indonesia adalah 43,39%, sementara perempuan mencapai 36,20%. 

Sebanyak 2,82 juta penduduk menduduki posisi manajerial. Namun, jumlah manajer perempuan hanya 33% saja

Sekalipun jumlah perempuan pekerja makin bertambah, jumlah pemimpin perempuan di level manajer ke atas masih terbatas. Masih banyak tempat kerja yang memberlakukan diskriminasi vertikal dengan tidak menempatkan perempuan di posisi pengambil keputusan. Fenomena ini dikenal dengan istilah glass ceiling atau langit-langit kaca

Dampaknya, perempuan belum tentu bisa mendapat peraturan perusahaan yang pro terhadap pengalamannya. Kita bisa membaca berbagai berita kurang menyenangkan tentang pekerja perempuan: mulai dari tidak bisa cuti haid sementara kondisi fisiknya drop sampai keguguran karena dipaksa bekerja di pabrik tanpa boleh duduk.

Sekolah.mu dukung perempuan maju

Kabar baiknya, Sekolah.mu amat memberikan ruang bagi perempuan (dan juga laki-laki!) untuk bisa menjalankan perannya sebagai pekerja dan anggota keluarga secara maksimal. Mulai dari work from anywhere yang memungkinkan perempuan tetap berkarier dari rumah; cuti kehamilan selama 6 bulan dan cuti bagi ayah selama 1 bulan; serta jam kerja personalized untuk mendukung kita menjalankan tugas-tugas lain di luar pekerjaan.  

Sekolah.mu juga rumah bagi para leaders perempuan, lho! Dengan inspirasi dari Ibu Najelaa Shihab sebagai CEO, para perempuan di Sekolah.mu juga menduduki posisi-posisi penting dan saling mendukung untuk maju.

Head of Academic Sekolah Murid Merdeka, Laksmi Wijayanti, menganggap Sekolah.mu sebagai rumah kedua. Perempuan merasa aman, nyaman, berkarya dengan tenang, dihargai, dan didukung untuk menunjukkan versi terbaik dari diri kita. 

Sementara itu, HR Recruitment Manager, Ajeng Septiana Widianingrum, merasa mendapat privilege karena bisa menjalankan semua peran sebagai recruiter, istri, dan ibu, secara beriringan dan mendapat dukungan penuh dari tim.  

Masih banyak kisah menarik dari perempuan-perempuan hebat di Sekolah.mu yang akan kita bagikan bulan ini! Simak di blog dan kanal sosial media kami, ya!





Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *