Rangkul Inner Child untuk Hadirkan Kekuatan Diri - Sekolah.mu

Rangkul Inner Child untuk Hadirkan Kekuatan Diri

Published
Categorized as Pilihan, Tips Tagged , ,
Oleh Soraya Arifianti, Learning Strategist Sekolah.mu

Harus diakui bahwa menghadapi perjalanan hidup yang serba tidak pasti itu memang sulit. Kita hanya bisa menduga kejadian apa yang akan kita hadapi di depan mata. Namun itu pun tidak selalu bisa sesuai dengan prediksi kita. Kalau dipikirkan terus menerus, rasanya memang hanya akan membuat cemas saja. Let’s just turn around and see what you have right now, and keep going on with all the things you have. But wait, have you already known what you really have right now?

Tanpa disadari, sebenarnya di sepanjang hidup ini ternyata kita telah membangun kekuatan melalui rangkaian pengalaman keberhasilan dan kegagalan yang dimulai bahkan dari saat kita masih di dalam kandungan. Salah satunya ada yang tersimpan rapi dalam diri kita masing-masing dan termanifestasi menjadi pola perilaku yang bisa kita amati sehari-hari. Bentuk perwujudan ini sering kali kita sebut dengan inner child. 

Semua orang memiliki inner child. Inner child merupakan bagian dari alam bawah sadar kita yang menyimpan memori, perasaan, dan juga keyakinan saat kita masih kanak-kanak. Pada waktu itu, kita belum sepenuhnya mampu untuk memproses kejadian yang kita alami dengan kemampuan berpikir yang lebih mumpuni seperti sekarang. Saat kita bertumbuh dewasa, tidak semua hal di masa lalu bisa kita ingat dengan detail bukan? Selama ini Inner child-lah yang merekam pola-pola kejadian di masa itu.

Bagaimana inner child mempengaruhi kita?

Sering disebutkan, ketika diri kita yang dewasa tidak mampu untuk merespon kejadian dengan adaptif adalah sebuah cerminan dari apa yang mungkin direkam oleh Inner child kita. Contohnya, saat di lingkungan kerja, kita sering melihat teman kerja atau bahkan diri kita sendiri yang selalu merasa tidak berani mengambil peran lebih besar dalam suatu pekerjaan atau memilih untuk mengerjakan hal-hal yang ia sudah kuasai saja. Ternyata setelah digali lebih jauh, saat masih kecil, ia terbiasa merespon pengalaman gagalnya dengan lari dari masalahnya. Saat ia tidak bisa melakukan sesuatu, orang tuanya menunjukkan respon kekecewaannya dengan memarahi dirinya. Ia terbiasa didorong oleh orang tuanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan kalimat-kalimat negatif seperti ‘Masa seperti itu saja tidak bisa’ atau ‘Kamu kok ngga bisa apa-apa sih, bikin repot saja’. Kalimat-kalimat tersebut terus terekam dan akhirnya membuat ia tumbuh menjadi seseorang yang sulit untuk percaya dengan kemampuan dirinya karena merasa apa yang dirinya lakukan selama ini tidak pernah cukup baik. Akhirnya, ia tumbuh dalam ketakutan dan cenderung menghindari tantangan, karena tidak ingin mengalami kegagalan. Padahal sebenarnya, saat ini dirinya yang dewasa sadar betul bahwa hadirnya tantangan dalam hidup kita adalah hal yang pasti dan terkadang tidak terhindarkan.

 Proses ini terjadi karena Inner child merekam perasaan saat gagal yang diiringi dengan keyakinan bahwa ‘Oh, mungkin aku memang tidak bisa apa-apa’. Pengalaman tidak menyenangkan ini tidak sengaja terbawa menjadi pola perilaku di masa-masa setelahnya. Saat tumbuh dewasa dan terpaksa dihadapkan dengan suatu persoalan yang menyulitkan dirinya, ia secara otomatis cenderung akan mengeluarkan respon yang sama seperti saat dirinya di masa kecil, karena mungkin informasi yang ia ketahui untuk menghadapi tantangan adalah dengan menghindarinya saja. Pola menghindari masalah itu terus menerus muncul dan menjadi bentuk pertahanan dirinya. Ia sering berpikir, “Kalau aku menghindari gagal kan artinya aku tidak perlu ya merasa tidak nyaman.” Kira-kira begitulah contoh dinamika bagaimana Inner Child bekerja di dalam diri seseorang.

Namun, tentu saja Inner child ini bukan hanya merekam pengalaman-pengalaman yang buruk. Inner child menyimpan semua bentuk perasaan dan memori yang paling mengesankan bagi kita. Jadi bisa saja memori yang berkesan adalah yang hal yang menimbulkan trauma, namun bisa jadi pula hal berkesan yang kita ingat itu justru yang paling menyenangkan atau menenangkan hati kita.

 

Rangkul inner child-mu 

Sekarang pertanyaannya, untuk apa kita membahas Inner child? Sekarang kita sudah tahu ya bagaimana Inner Child mempengaruhi hidup kita. Para ahli menyebutkan bahwa bila kita mampu menyelami pola kita merespon lingkungan saat kita kecil, di masa dewasa kita jadi lebih mampu untuk menghadapi masalah. Untuk bisa lebih memahami diri kita yang sekarang, mungkin kita perlu untuk menengok dan mempelajari pola-pola perilaku kita dalam merespon lingkungan di masa kecil. Untuk sebagian orang, menelaah kembali memori masa lalu mungkin bukan hal yang mudah, butuh keberanian besar untuk memproses kejadian di masa lalu. Apalagi kalau pengalamannya kurang menyenangkan. Tapi, kita tidak mau kan terus-menerus memelihara respon yang kurang adaptif terhadap setiap masalah yang akan kita temui sampai tua nanti? Marilah kita coba perlahan-lahan saja untuk lebih menelaah ke dalam diri, mempelajari dan mengenal lagi diri kita dengan lebih baik agar kita memiliki kekuatan untuk bertahan saat menghadapi permasalahan. Salah satunya dengan berkomunikasi dengan inner child. 

Cara konkrit untuk merangkul inner child adalah dengan lebih menghayati momen demi momen di hidup kita. Coba ambil waktu untuk kita melihat ke dalam diri kita, menelaah apa sebenarnya hal yang menjadi kebutuhan, harapan atau sesuatu yang merasa terasa begitu mengganggu kita. Gali lebih jauh, apa sebenarnya membuat diri kita takut atau khawatir. Perlahan-lahan kita dengarkan sisi diri kita yang lain untuk mengungkapkan keresahannya. Versi diri kita yang dewasa mungkin lebih tahu banyak hal atau bisa jadi lebih terpengaruh dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan. Tapi, cobalah dengarkan suara hati kecilmu yang sebenarnya tanpa penghakiman apa-apa dari diri kamu yang versi dewasa. Jadilah tempat yang aman bagi dirimu sendiri untuk memproses semuanya. Tidak perlu terburu-buru dalam menghayatinya. Perlu diingat juga bahwa saat kita memulai komunikasi dengan diri kita, perasaan kita mungkin saja tidak langsung jadi lebih nyaman seketika. Hargai prosesnya langkah demi langkah. Semoga kita lebih nyaman dan kuat dalam membawa diri ya!

Baca juga: Warna-Warni Keberagaman di Sekolah.mu

Leave a comment

Your email address will not be published.