Everywhere, Everyday Heroes - Sekolah.mu

Everywhere, Everyday Heroes

Published
Categorized as Event, News, Pilihan, Tips

November nggak lepas dari dua hari besar, yakni Hari Pahlawan (10 November) dan Hari Ayah (12 November). Ngomong-ngomong soal pahlawan, Muvers pasti punya sosok pahlawan tersendiri dalam hidupnya, mulai dari ayah, ibu, sampai panutan di tempat kerja. Kali ini, empat Muvers berbagi sosok pahlawan dalam hidup yang menginspirasi sampai saat ini. Coba cek, ada yang sama nggak dengan pahlawanmu?

Rani Indriani Kusumah – Koordinator Bimbingan dan Konseling, SMM

Rani punya visi untuk berkontribusi di pendidikan dengan bantuan teknologi. Sejak kecil, ia sudah terinspirasi oleh para guru dan pengalaman belajar saat sekolah untuk jadi pendidik juga. Impian ini kini terwujud! Berlatar belakang psikologi, Rani memegang peranan untuk bimbingan dan konseling di Sekolah Murid Merdeka mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.

Ngomong-ngomong soal pahlawan, Rani menyimpulkan bahwa makna pahlawan di zaman dahulu dan sekarang punya inti yang sama: punya keberanian dan rela berkorban, punya mimpi besar untuk Indonesia, meskipun hanya melakukan hal yang sederhana tapi bisa memberikan dampak positif bagi orang lain. Pahlawan di masa kini bisa memberi dampak untuk saat ini dan saat yang akan datang.

“Siapa saja bisa jadi pahlawan kalau tindakannya nyata, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, namun juga kepentingan orang banyak. Ia berdampak besar walau dengan hal yang sederhana,” katanya.

Pahlawan lewat tulisan

Bagi Rani, ada beberapa sosok pahlawan yang berkesan dalam hidupnya. Pertama, Ibu Kartini karena tanggal lahirnya sama-sama di 21 April. Orang tuanya pun memberi nama terinspirasi dari RA Kartini atau RA Kusumah. 

“Kartini adalah sosok yang berani menyampaikan gagasan lewat tulisan,” tutur Rani. Kartini juga memperjuangkan hak-hak perempuan supaya bisa mendapatkan pendidikan layak pada zamannya dengan mendirikan sekolah untuk perempuan dan orang kurang mampu, rela berkorban, tetap patuh pada orang tua sambil memperjuangkan cita-citanya. Tulisan-tulisannya juga amat inspiratif untuk menyebarkan gagasan. Bahkan, RA Kartini menginspirasi Rani untuk suka menulis dan membaca hingga kini telah menerbitkan 11 buku!

Sementara itu, pahlawan di kehidupan sehari-hari baginya adalah guru. “Kalau nggak ada guru tuh, nggak kebayang deh belajarnya dari mana,” ucapnya. Guru tidak hanya mendidik seseorang menjadi manusia yang berintelektual tetapi juga manusia yang bermoral. Guru membentuk seseorang menjadi manusia yang lengkap lewat ajaran-ajarannya dalam menghadapi kehidupan supaya kita pintar secara emosional dan spiritual.

Pentingnya sosok guru dalam kehidupan Rani membuatnya beranggapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa itu benar adanya. Namanya guru, digugu dan ditiru, keberadaan dirinya jadi contoh dan teladan. ”Pastinya guru itu ikhlas, tidak memandang seberapa besar gajinya, tapi gimana sih bisa mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk generasi muda dengan kepedulian dan ketulusan untuk mendidik.”

Beri dampak bagi sesama

Dari perannya sekarang, Rani punya cita-cita besar untuk memberi dampak positif bagi sesama. Salah satunya, mengajar kelas Mental Health 101 dengan banyak peserta. Rani juga berharap perannya di SMM dapat memberi dampak positif sebaagi bentuk mendidik murid lewat program, layanan, maupun pelajaran.

Lebih jauh lagi, Rani berharap bahwa dampak yang ia berikan juga menyentuh para guru dalam memanusiakan hubungan: tak hanya memberi pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga membentuk karakter murid maupun diri sendiri. 

Dalam mewujudkan mimpinya, Rani mendalami ilmu psikologi terapan seperti CBT dan hypnotheraphy. Ia membantu klien menjalani konseling, terapi, coaching, dan training sejak kuliah. Rani berusaha agar obrolannya bisa sampai ke solusi, tidak hanya curhat, sehingga bisa membantu transformasi perilaku klien. 

Selain itu, ia juga masih menulis sampai sekarang. Buku paling berkesan adalah buku pertamanya berjudul“Habiskan Jatah Gagalmu di Usia Muda”. Rani menulisnya di masa kuliah yang penuh naik-turun kehidupan dan kegagalan. “Hikmahnya apa sih dari yang dialami? Itu yang bakal bikin kita jadi manusia yang lebih kuat dan tangguh,” urainya. 

Terakhir, jika bisa punya superpower, Rani ingin banget punya kepekaan dan kepedulian tingkat tinggi! “Ini modal awal supaya kita bisa bertindak. Penting banget sensitivitas untuk dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Apa sih yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan?” 

Erwin Firmansyah – Android Engineer, Technology

Sudah lebih dari setahun Erwin bergabung dengan Sekolah.mu. Ia memutuskan untuk bergabung karena merasa cocok dengan kultur dan sistem kerja di sini. Sejak bergabung, Erwin banyak belajar hal baru, terutama tentang kerja sama tim dan pengembangan diri. Ia pun mencanangkan diri untuk memberi dampak baik pula untuk sesama.

Bagi Erwin, sosok pahlawan adalah mereka yang memberikan kebermanfaatan bagi orang lain tanpa pamrih. Erwin beranggapan bahwa makna pahlawan di zaman dulu dan sekarang berbeda karena konteks perjuangan pun berbeda kondisinya. Di masa perjuangan, tujuannya agar rakyat tidak menderita. Di masa kini, semua bisa jadi pahlawan dengan bekerja ikhlas dan orang lain merasakan kebermanfaatannya. 

Pahlawan dalam hidup

Erwin punya beberapa sosok pahlawan dalam hidupnya. Orang tua tentunya jadi pahlawan karena apa pun yang dimulai dan dipelajari pasti dari orang tua. Ayah dan ibu Erwin memberikan dukungan tanpa henti sampai akhirnya ia bisa berada di titik ini. “Kalau tanpa orang tua, mau gimana kita?”

Guru berjasa dalam menebarkan ilmu bermanfaat, juga menjadi sosok orang tua di sekolah yang mendorong dan mendukung muridnya. Untuk berlari menuju apa yang diinginkan, perlu ada jembatan atau jalan, dan itulah peranan guru. Mereka yang membimbing dan menjembatani murid-murid menuju tujuan. 

Tak hanya itu, di kantor pun banyak sosok teman-teman dan leaders yang jadi pahlawan karena berjasa. Salah satunya adalah Aldhi Ramdan, atasan Erwin, yang selalu mengarahkan agar tetap on track  dengan dampak yang ingin diberikan. Teman-teman dan atasan bisa menerima, mengajarkan berbaur, dan bekerja dengan semestinya. “Susah buat milih satu, karena banyak yang berjasa sampai saat ini,” kata Erwin. 

Dampak sebagai developer

Dari role-nya sekarang, Erwin pun bertekad untuk mencerdaskan anak bangsa walaupun tak langsung terjun sebagai pelajar. Salah satu caranya adalah dengan project perubahan di halaman belajar versi Android yang kini lebih baik. “Revamping ini membuat berbagai macam konten belajar tuh bisa ditingkatkan lagi dan mudah diakses via aplikasi Android,” tuturnya. Tampilan aplikasi halaman belajar jadi lebih menarik, akses lebih cepat dan mudah. 

Tak hanya di kantor, di lingkungan rumah pun Erwin berkontribusi bagi sesama. Sejak jam 5 sampai magrib ia mengajar mengaji di mushola dekat rumah bagi usia TK sampai kelas 4 SD.  

Kalau bisa jadi superhero, Erwin mau banget jadi Captain Marvel karena sosoknya kuat, cepat, dan bisa multitasking. Superpower impiannya adalah bisa multitasking supaya bisa melakukan banyak hal!

Wella Ayu Cahaya – Lead Psychologist, Academic

Wella yang telah bergabung setahun dengan Sekolah.mu ini berprofesi sebagai psikolog. Ia kini berada di tim asesmen sebagai lead psychologist yang membuat laporan hasil asesmen, interpretasi hasil, dan mengulas soal-soal asesmen. Berdomisili di Mojokerto, Jawa Timur, Wella banyak menghabiskan waktu untuk membaca konsep, membuat panduan penggunaan alat ukur sampai membuat review hasil alat ukurnya. 

Bagi Wella, pahlawan identik dengan sosok yang berjasa. Di masa kini, pahlawan adalah mereka yang memberikan jasa, berdampak bagi hidup sehari-hari, termasuk orang di dekat kita. 

Dalam hidupnya banyak sekali yang bisa disebut pahlawan, termasuk pengendara ojek daring! 

“Yang paling berkesan adalah yang selalu ada di saat up and down, yaitu orang tua dan sahabat. Mereka selalu memberikan bantuan, selalu ada untuk kehidupan kita,” tutur Wella. Diri sendiri juga bisa jadi pahlawan yang berdiri untuk diri kita sendiri tanpa selalu bergantung pada orang lain. 

Bantu orang dan berdampak

Wella melihat dirinya menjalani dua peran yang bisa memberikan dampak bagi sesama. Sebagai psikolog klinis, ia ingin berdampak bagi kesehatan mental orang-orang terdekat, juga orang-orang di sekitar. “Aku ingin membantu orang-orang agar lebih sehat mental. Membuat orang lain merasa lebih baik dari apa yang dirasakan sekarang,” katanya. 

Selain itu, sebagai assessment developer, dampak terbesar adalah menyediakan alat ukur yang valid untuk memberikan data dalam mengenal klien. Secara holistik, lewat alat ukur, Wella bisa membantu beri gambaran kondisi klien agar bisa ditindaklanjuti dengan tepat.

Kalau bisa jadi superhero, Wella ingin menjadi RA Kartini untuk turut aktif dalam penguatan peran perempuan untuk berfungsi setara dengan laki-laki. Selain itu, ia ingin punya superpower seperti Superman untuk bisa pindah ke mana saja dengan cepat sambil terbang, serta punya kekuatan ekstra di tangannya!

Triani Agustini Margareth Nainggolan – Account & Client Management, Talentics

Triani yang telah bergabung dengan Talentics sejak awal ini tergerak untuk berdampak bagi pergerakan anak muda. Ia ingin berperan aktif untuk mewujudkan edukasi untuk semua anak Indonesia. Maka bergabung dengan Sekolah.mu menjadi pilihan terbaik dalam menjalani impiannya. “Di sini semuanya lengkap. Mulai dari sekolah di SMM atau Sekolah.mu, pilih jurusan kuliah dengan tepat pakai Siap Kuliah, dipersiapkan menjadi talenta terbaik di Karier.mu, dan perusahaan pun dibantu dengan Talentics,” katanya. 

Buatnya, sosok pahlawan tidak identik dengan figur tertentu. Semua orang bisa jadi pahlawan untuk sekitarnya. Di zaman sekarang, pahlawan bisa berbentuk role model. Kita melihat dari dekat orang yang kita kagumi, kita respek, dan perilakunya yang berdampak bisa kita contoh di kehidupan kita sendiri. 

Dari orang tua ke Lee Jun Ho

Bagi Triani, orang tua pasti jadi pahlawan karena bisa membesarkan anak-anaknya dengan baik. Bahkan, ibu Triani memutuskan untuk resign dari kariernya dan fokus mengurus anak-anaknya sampai sekarang. “Aku suka ngomong ‘Mah, yang Mamah lakukan 30 tahun lalu tuh keputusan terbesar dan paling berani yang nggak semua orang bisa ambil itu.’”

Nggak tanggung-tanggung, Triani punya 8 sosok pahlawan lain yang menginspirasi hidupnya: Lee Jun Ho, Emma Watson, Cleopatra, Dian Sastrowardoyo, Martha Tilaar, Najwa Shihab, Anne Hathaway, dan Oprah Winfrey. Semuanya adalah sosok pekerja keras, penggerak yang punya dampak bagi sesama, dan mampu memanajemen diri sekalipun sudah meraih kesuksesan. Selain itu, mereka rendah hati dan punya ketangguhan atau grit sehingga tidak gampang menyerah. 

Dari semua, Triani merasa relate dengan Lee Jun Ho karena menyaksikan perjalanannya dari sejak SMP sampai sekarang. “Kadang nge-fans sambil termotivasi nggak mau tersaingi, kok dia bisa disiplin melakukan ini-itu dan sempat pelayanan di gereja, sementara aku masih malas-malasan. Dia membuat aku terpacu buat disiplin kerja, bergerak olahraga, dan pelayanan,” tutur Triani.

Dampak dari peranan sekarang

Sosok para pahlawan di atas memotivasi Triani untuk maksimal berkontribusi di peranannya. “Mereka punya banyak value yang aku mau, misalnya pekerja keras, independen, empati tinggi, pintar, berintegritas. Ini jadi modalitas buatku bekerja saat ini,” kata Triani. 

Untuk memberikan dampak, Triani menjunjung integritas tinggi dalam bekerja sehingga bisa membantu tim dan klien. “Tentu ingin jadi independen, bisa menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan sendiri tanpa lupa peran jadi team player. Juga nggak takut coba hal baru kalau ditantang.”

Terakhir, Triani ingin jadi Wanda Maximoff seandainya bisa jadi superhero. Dia bisa mengendalikan, menghancurkan, dan menciptakan. Kalau bisa punya superpower, ia ingin bisa teleportasi dan jadi time traveler, siapa tahu bisa ketemu Cleopatra!




Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *