Embracing Failure and Grit In Order to Grow - Sekolah.mu

Embracing Failure and Grit In Order to Grow

Published
Categorized as Event, News, Pilihan, Tips Tagged , , , , ,

“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.” – Winston Churchill

Kisah pengembangan diri seseorang pasti nggak lepas dari kegagalan. Sekalipun gagal adalah bagian dari hidup, tetap saja rasanya pasti tidak enak dan mungkin sulit dilupakan. Butuh refleksi, tekad kuat, dan kegigihan untuk melompat kembali setelah mengalami kegagalan. 

Dalam rangka merayakan Hari Kebangkitan Nasional di 20 Mei ini, tim Inside Sekolah.mu juga ingin merayakan Muvers yang bisa bangkit lagi dari kegagalan yang pernah dialami. Spesial banget nih karena kali ini kita ngobrol dengan managers dan leaders di PT SID dan bisa belajar bersama dari pengalaman mereka! Yuk, simak obrolan di bawah ini.

Haris Bashori, Senior Performance Marketing Manager – Marketing

Pria yang biasa dipanggil Haris ini bergabung dengan PT SID sejak awal 2022. Dengan latar belakang di digital marketing, Haris pun berkecimpung untuk pertama kalinya di dunia edutech. Di sini ia mendapat banyak dukungan untuk terus berkembang, misalnya fasilitas training yang memang dibutuhkan di dunia marketing yang dinamis.

Kegagalan sebagai pelajaran

Pencapaian sampai titik ini tentu tak lepas dari jatuh bangun. Salah satu pengalaman hidup yang pahit tapi berharga bagi Haris adalah ia pernah terkena lay off dari salah satu startup global.

“(Aku) merasa belum bisa fulfill target dan pencapaian, jadi ngerasa harus ngembangin diri lagi dengan working abroad. Di situ banyak pengalaman yang memberikan insight baru dan ngerasa harus 3 step lebih maju,” tuturnya. Pengalaman kerja di luar negeri ini juga membuka mindset dan mendatangkan kesempatan baru bagi Haris untuk berkembang. Ia pun mencoba menerapkan pengalaman tersebut di Indonesia. 

Haris pun memandang bahwa kegagalan adalah tempat belajar. Kegagalan sekecil apapun bisa membantu untuk melek diri dan mengembangkan diri. “Kegagalan itu wajib dirasakan untuk self improvement. Tapi, nggak boleh gagal lalu jadi demotivasi, justru harus jadi motivasi untuk lebih baik dan speed up untuk berkembang,” katanya.

Antisipasi kegagalan

Sebagai manager, Haris tentunya wajib meminimalisir potensi kegagalan dalam bekerja. Cara mengantisipasinya adalah dengan membuka mata selebar mungkin sebelum mengambil keputusan. 

“Ambil keputusan bukan berdasarkan satu pihak, tapi juga dari pihak-pihak lain. Ketika sepakat pun harus membandingkan lagi apakah ada opsi lain atau tidak,” kata Haris. Saat harus mengambil risiko, Haris terlebih dahulu memetakan besaran risiko. Ia pun tak lupa berkolaborasi dengan pihak lain untuk mendapat insight dan umpan balik agar keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik untuk perusahaan. 

Bagi Muvers, Haris berpesan bahwa kegagalan adalah tools yang membuat kita berkembang 2-3 kali lipat dari sekarang. “Jangan sampai demotivasi atau berlarut-larut, sedangkan yang lain sudah di gigi lima. Jangan di situ-situ aja, enjoy the process karena di situ kita bisa tahu banyak apa yang dilalui,” pungkasnya. 

Yuni Ermaliza, Academic Manager – Academic

Bergabung dengan SID sejak awal berdiri, Yuni yang biasa dipanggil Uni ini memiliki minat di dunia riset. Ia memulai kariernya di SID sebagai learning designer yang merancang program belajar sesuai dengan kebutuhan murid. Uni kini berperan sebagai Academic Manager yang juga melihat dampak program-program akademik di masyarakat. 

“Kegagalan” di masyarakat

Perjalanan Uni di dunia pendidikan tak lepas dari awal dari pengalamannya sebagai pengajar muda di desa yang jauh dari ibu kota. Uni yang baru lulus kuliah menjadi guru sekolah. Namun, ia bertemu dengan kultur yang berbeda. Di sana, penampilannya yang tidak berkerudung menjadi pertanyaan bagi masyarakat maupun anak-anak. 

Karena ia mendapat izin dari kepala sekolah untuk tidak mengenakan kerudung, Uni memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa mengubah penampilannya. Tetapi hal sempat dianggapnya sebagai kegagalan pribadi karena Uni merasa kehilangan dirinya. Perlahan, dengan kesabaran dan upaya untuk melibatkan murid di sekolah maupun luar sekolah, masyarakat pun menerima Uni. “Ternyata ada satu bahasa universal yang menyatukan kita pada saat itu… yakni kebaikan,” ucap Uni. 

Bangkit dari kegagalan bukan hal yang mudah bagi Uni. Butuh keberanian dan proses panjang untuk bisa loyal pada diri sendiri sekaligus diterima masyarakat. Rasa percaya dirinya juga sempat jatuh ketika pulang dari desa tempat mengajar dan bertemu dengan teman-teman dengan segala pencapaian mereka. 

“Untuk bangkit, aku banyak memfokuskan diri ke hal yang bisa dilakukan untuk bisa terus berkembang dengan baik. Kita nggak pernah tahu hasil dari apa yang kita sudah upayakan,” tuturnya. 

Belajar dari kegagalan

Di posisinya sekarang, Uni melihat bahwa kegagalan harus dihadapi dan bukan hal yang perlu dihindari. “Justru kalau kamu melakukan hal tanpa salah, selalu perfect, kamu akan stuck dengan satu cara saja,” ucapnya. Kegagalan membuat kita bisa berkembang ketika kita mengeksplor berbagai cara untuk bangkit dan berpikir. 

Ia pun melihat bahwa kegagalan dan risiko bukan dua hal yang terpisah; kegagalan adalah bagian dari risiko yang harus dipertimbangkan. Maka, sebelum mengambil keputusan penting, biasanya Uni mempertimbangkan risiko yang mungkin timbul. 

Uni berpesan bagi teman-teman untuk tak takut berteman dengan kegagalan. “Kegagalan hadir untuk dihadapi dan diterima, karena kita bisa belajar dan tahu cara baru untuk bangkit dari masalah,” ucapnya. Tak lupa, kita pun wajib memelihara rasa ingin tahu karena hal ini bisa membantu kita untuk berkembang dan bangkit dari kegagalan. Dengan curiosity, kita pun bisa lebih otentik dan kreatif saat menghadapi tantangan.

Cantika Marlangen, Senior Business Manager – Partnership & Project

Cantika atau biasa dipanggil Tika sudah bergabung dengan Sekolah.mu sejak dua tahun lalu. Ia ingin menjadi learning designer, tetapi dengan latar belakang yang banyak berkecimpung di project, Tika pun diajak bergabung dengan Karier.mu. Awalnya Tika mengurus kerja sama B2B business dengan korporasi, kemudian timnya dipisah dan saat ini menjadi tim Partnership & Project.

Sekalipun ia termasuk orang yang bisa segala, Tika pernah merasakan kegagalan di dunia kerja. Ia pernah bekerja di bawah pemimpin yang micromanaging, tidak pernah bekerja di Indonesia atau memimpin tim. Tika pun meragukan dirinya sendiri dan berpikir bahwa ia tidak akan bisa perform dengan baik di bawah leader tersebut. Ia pun tidak memiliki support system di tempat kerja hingga akhirnya resign di saat pandemi.

Pentingnya support system

Tika merasa lebih kuat dalam menghadapi tantangan setelah menikah karena ada pasangan yang menemani. Didukung konseling dan pengalaman kerja sebelumnya, Tika sadar bahwa kesalahannya adalah tidak membangun support system yang baik dan membiarkan dirinya berada di situasi yang tidak mengenakkan. Pengalaman itu pun menjadi pelajaran: sebagai manager, Tika selalu berpesan kepada timnya untuk memiliki support system dari orang-orang terdekat. Timnya pun didukung untuk terbuka dalam menceritakan masalah yang dihadapi.

Tak hanya support system dari orang terdekat, Tika pun melakukan konseling untuk bangkit dari keterpurukannya. Beruntung, ia mendapat psikolog yang mampu men-challenge pikirannya. Hal ini pun membuatnya bisa berdiri kembali setelah terjatuh di pengalaman kerja sebelumnya.

Pengalaman itu menjadi bekal untuk berperan sebagai leader yang baik. Jika ada kesalahan tim, berarti ia pun memiliki andil dalam hal tersebut. “Ketika seseorang melakukan kesalahan dalam organisasi, kesalahan tersebut bukan merupakan kesalahan murni dari individu tersebut, melainkan juga kesalahan dari organisasinya,” ujar Tika. 

Ambil keputusan penting

Tika melihat bahwa risiko akan selalu ada dan kegagalan adalah hal yang akan dihadapi semua orang. Namun, sebelum mengambil keputusan penting, butuh support system untuk mengantisipasi risiko yang mungkin timbul. “Perlu juga pertimbangan untuk tahu apakah risiko itu worth it untuk diambil,” katanya. Support system berperan ketika kita tak yakin akan potensi risiko; dengannya, kita bisa bertanya kepada senior, atau rekan kerja untuk memperhitungkan risiko tersebut. 

Tika menanamkan ke anggota timnya tentang pentingnya merasa gagal atau melakukan kesalahan sebagai bagian dari belajar. “Sebagai team leader, gue udah bisa mengukur dan menghitung seberat apa kalau team member ada yang salah atau gagal,” katanya. Apabila konsekuensinya memang berat, ia yang turut menyelesaikannya. 

Terakhir, Tika memiliki pesan penting tentang kegagalan. “Keterbukaan itu penting, lebih penting daripada jadi perfeksionis yang mengerjakan semua tanpa bantuan orang lain,” ucapnya. “Akan jauh lebih sehat ketika kita bisa bergantung dan percaya pada tim untuk bekerja sama. Jangan merasa lemah ketika minta bantuan orang lain.”

Khoirunnisa, Operational Manager – Sekolah.mu

Khoirunnisa yang akrab dipanggil Icha ini memiliki ketertarikan kuat pada bidang pendidikan lantaran sang ayah pun berprofesi sebagai guru. Sejak lama, Icha memiliki misi untuk memeratakan pendidikan di Indonesia. Ia pun pernah berkontribusi sebagai pengajar di daerah terpencil selama setahun lamanya.

Icha meyakini bahwa kegagalan adalah keniscayaan. Begitu pula dalam perannya sebagai Operational Manager di Sekolah.mu yang tak lepas dari tantangan-tantangan unik. Untuk menghadapinya, Icha menerapkan konsep “learning by doing” sehingga ia bisa menerima dan memaklumi kegagalan yang dialami. “Namanya juga start-up, jadi banyak mencoba hal baru,” ucapnya. 

Ruang untuk gagal

Di BU Sekolah.mu sendiri, selalu ada ruang untuk kesalahan atau kegagalan. Hal inilah yang membuat Icha lebih mudah berdamai dengan diri sendiri jika gagal. Selain itu, ia berusaha untuk terus belajar dari kegagalan tersebut. Tak kalah penting adalah adanya dukungan dari lingkungan, baik dari pekerjaan maupun keluarga, yang membantunya menghadapi kegagalan yang dialami. 

Dengan perannya yang banyak berhubungan dengan banyak pihak, Icha mendapat banyak pelajaran dari perspektif masing-masing stakeholder di PT SID. Melihat kegagalan dari kacamata yang lebih luas menjadi hal penting.

“Pada hakikatnya, setiap kegagalan akan menciptakan peluang emas,” kata Icha. Maka dari itu ia menitikberatkan pembelajaran yang diambil dari kegagalan, alih-alih berlarut-larut tenggelam di kesalahan yang terjadi. Salah satu pengalaman yang ia hadapi adalah aktivasi offline yang sempat gagal, namun dengan belajar dari kegagalan, akhirnya dapat terlaksana dengan sukses. 

Refleksi dari kegagalan

Icha juga menekankan pentingnya refleksi untuk menyeimbangkan risiko dengan kegagalan. Setiap kegagalan wajib dijadikan sebagai pembelajaran reflektif untuk perbaikan di masa depan. Selain itu, ia terbiasa menyiapkan plan B untuk mengantisipasi risiko dan kegagalan yang mungkin timbul. Dengan adanya rencana cadangan tersebut, Icha bisa lebih terarah dalam mengambil keputusan. 

Bagi Icha, kegagalan adalah sesuatu yang wajar terjadi di lingkup profesional. Selain mempersiapkan rencana B atau C untuk mengantisipasi kegagalan, bekal lain yang tak kalah penting adalah kerja setulus hati. “Dengan kerja sepenuh hati, kita bisa menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan itu,” tuturnya menutup percakapan. 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *